Portal Akademik
Link
Support Center
Eksis & Berprestasi
Kamis, 01 April 2021
Pernah Gagal, Mendapatkan Hujan Cemooh dan Cibiran, Ia Tetap Membangun Karya
Ditulis Oleh : Humas
Gambar (ist): Potret kebersamaan Dedy Rosadi, M.Pd., M.Sc., dengan Alm. Drs. H. Sudirman Ismail, M.Si.
TamsisBima – Tidaklah satu karyapun yang lahir tanpa tetesan keringat. Perjalanan pendiri Yayasan Lembaga Pendidikan Taman Siswa Bima, Alm. Drs. H. Sudirman Ismail, M.Si., dan Alm. Drs. A. Wahab, dalam membangun dunia pendidikan di Bima, tidaklah mudah. Pernah gagal, mendapatkan hujan comoohan dan cibiran tak membuatnya surut. Bertahap, perjuangan terus membuahkan hasil. Kini, karya keduanya telah mewarnai dunia pendidikan, dinamika pembangunan dipelok-pelosok desa, hingga ke kancah perpolitikaN daerah.

“Aji (alm. Drs. Sudirman Ismail, M.Si, red) memulai membangun karya dan peradaban di Bima dengan membuka kursus mengetik dan menjahit. Alhamdulilah kegiatan ini sangat direspon oleh konsumen sehingga tempat kursus ramai dikunjungi oleh pengguna jasa mengetik dan menjahit. Selanjutnya aji membangun STM Taman Siswa, namun kegiatan ini kurang begitu sukses karena kekurangan siswa dan banyak siswa yang tidak lulus lewat ujian negara sehingga STM Taman Siswa ditutup,” cerita Dosen Senior yang membersamai berdirinya STKIP Tamsis Bima, Dedy Rosadi, M.Pd., M.Sc., pada media ini melalui smartphonenya, Senin (1/4/2021).

Walaupun dalam membangun STM Taman Siswa gagal, sambungnya, namun Aji tidak putus asa. Panutannya itu kembali bangkit, mencoba lagi dengan membangun kampus: STKIP Taman Siswa Bima. Pada masa itu, tantangan yang dihadapi sangat berat, yaitu perjuangan mendapatkan ijin operasional dari Dirjen Dikti.

“Aji pulang pergi Jakarta - Bima seperti pulang pergi Bima – Tente. Begitu seringnya Aji ke Jakarta dalam rangka memperjuangkan ijin operasional kampus. Belum lagi setiap berangkat ke Jakarta sambilan membawa air madu ukuran jerigen, sebagai oleh-oleh untuk orang yang mengurus ijin operasioanl kampus. Tantangan yang paling besar yang dihadapi Aji dalam membangun kampus adalah cibiran dan cemoohan dari rekan dan tetangga tempat tinggal bahkan kampus-kampus tetangga yang mengatakan ijin oprasional tidak akan dikeluarkan oleh Dikti,” ungkap Dedy Rosadi.

Sebagai seorang yang sudah makan asam garam sukses dan gagal dalam berjuang, sang pendiri itu tidak patah semangat. Justru semakin membangkitkan semangat pihaknya untuk terus berjuang dan memperbaiki semua dokumen yang dibutuhkan untuk syarat ijin operasional kampus. Motivasi yang aji berikan, “Kalian kerja saja siapkan semua dokumennya, biarkan aji yang lobi ke Jakarta, jangan patah semangat,”.

“Alhamdulillah berkat kesabaran dan perjuangan yang tidak mengenal lelah, akhirnya keluarlah ijin operasional kampus yang bernomor 176/d/o/2007. Suksesnya perjuangan ini laksana hujan di musim kemarau. Aji mau menunjukan ke khalayak Bima bahwa perjuangan telah sukses dengan memerintahkan ke kami untuk memasang spanduk di depan rumah raba ngodu utara dan di kampus,” tekan dosen senior di STKIP Tamsis Bima itu.

Langkah selanjutnya, mengurus kampus dan membuat terobosan-terobosan. Jumlah mahasiswa makin banyak bahkan menembus angka 7000. Di kampus, ungkapnya, Aji merupakan sosok pemimpin yang tahu dan memahami kekurangan rekan kerjanya. ”Beliau seorang bapak dan orang tua bagi saya. Tiap hari saya diberikan nasehat, kadang dibentak jika ada kekeliruan mengambil kebijakan, namun marahnya hanya sebentar sudah itu baik lagi. Selain itu aji selalu ajak makan bersama mi campur ayam, ayam itupun beliau beli bibitnya di pasar kemudian dilepas di sawah, setelah besar dipanen untuk acara makan bersama,” ia bercerita.

Baginya, kenangan bersama alm. begitu banyak dan susah untuk dilupakan. Selalu terkenang. Ia mengaku, banyak hikmah yang dapat atas kebersamaan dengan aji yaitu; Aji seorang pemimpin yang mengayomi bawahannya, pejuang yang pantang mundur sebelum sukses dalam berjuang, dermawan dan sensitifitas terhadap kekurangan sahabat dan keluarga, sangat sayang dengan keluarga besarnya, seorang negosiator atau pelobi yang ulung, dan tidak pernah takut untuk menghadapi pejabat.

“Pesan aji yang sangat mendalam buat saya adalah; Jasmerah, cari harta perlu proses, jangan lupa kebiasaan sedekah, jangan jadi pemain tinju yang selalu mengepalkan tangannnya, tapi jadilah pemain karate yang selalu membuka tangannya artinya jangan jadi orang pelit, jadilah seorang dermawan, Sholat Duha dan Hahajutlah supaya reski lancar. Akhirnya semoga aji husnul khotimah dan ditempatkan di maqam yang layak disisi Allah. Amieeen,” pungkasnya. (TSB01)

[ Kembali ]
HMPS & UKM Partner & Support
Sekretariat Kampus I :
Jl. Pendidikan Taman Siswa No. 1 Kab. Bima - NTB
Gedung C Lt.1 Telp/Fax : 0374 - 42891
Sekretariat Kampus II :
Jl. Datuk Dibanta No. Kota Bima - NTB
Gedung A Lt.1
Copyright @ 2014 - Power by ICT-TSB