Portal Akademik
Link
Support Center
Eksis & Berprestasi
Senin, 17 Februari 2020
Sudah 3 Tahun MK Drama Ciptakan Warna Seni di STKIP Tamsis Bima
Ditulis Oleh : Humas
TamsisBima - Pagelaran kesenian tahunan, itulah yang kiranya akan tersirat ketika mendengar kata, Matakuliah (MK) Drama di Prodi Pendidikan Bahasa Inggris STKIP Tamsis Bima. Tidaklah berlebihan jika tampilan kesenian itu memang memberikan warga seni di Kampus Merah. Melatarbelakangi kegiatan tersebut, menurut Dosen Pengampu yang juga merupakan Kaprodi Pendidikan Bahasa Inggris, Ramli, M.Pd., adalah pendekatan mengajar yang cair dan inovatif.

"Pendidikan berbasis peradaban akan sangat tergantung pada bagaimana pendidikan itu dalam melahirkan kesenjangan dalam kehidupan bermasyarakat. Proses dan polarisasi dalam pendidikan harus mampu menjawab realita bahwa pendidikan yang diLakukan tidak hanya serta merta mengajar di dalam kelas yang outputnya adalah performa angka yang menjadi target kekangan dari setiap peserta didik. Oleh sebab itu diperlukan pendekatan – pendekatan yang lebih menarik serta kontekstual dalam proses pendidikan karena sejatinya hal tersebut sebagai bentuk penyesuaian polarisasi pendidikan dan pengajaran di era 4.0," urai Ramli kepada media ini via aplikasi whatsappnya, Senin (17/2/2020).

Hal tersebut, diakuinya, yang mengilhami dalam mengejewantahkan nilai dan kultur lokal maupun nasional. Setiap aspek pembelajaran yang dilakukan, tidak henti hentinya improvisasi dalam pengajaran dilakukan untuk memberikan pendekatan berbeda dan unik dalam setiap MK yang diampunya. Sejak meniti karir sebagai dosen muda tahun 2017, Ramli telah banyak melakukan hal-hal positif dalam proses pengajarannya. Diantaranya adalah MK Drama.

"Kami mengawal mahasiswa binaan MK tersebut (Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, red) untuk mementaskan sebuah drama yang bertajuk AMATEUR (A Moment To Explore Uur Culture) dengan Sub Tema M-SADE (Mbojo Sabua Ade). Dalam pentas drama ini seluruh mahasiswa diarahkan untuk mementaskan drama yang merepresentasikan Bima. Semua drama yang dipentaskan adalah cerita rakyat Bima dan Dompu. Seperti La HILa, Dae Minga, Wadu Ntanda Rahi," papar Ramli.

Hak tersebut tentunya membangkitkan semangat para pemuda untuk senantiasa mewariska nilai-nilai luhur budaya yang sudah semakin terkikis oleh zaman, khsususnya millenial. Selang 2 semester, di tahun 2018, kembali dengan MK yang sama Ramli mencoba memainkan ide cerita menjadi lebih milenial dengan mengangkat tema “KUTEMUKAN DILAN DALAM AYAT – AYAT CINTAKU”.

"Pesona Dilan dalam kehidupan kaum milenial telah begitu menghipnotis, entah dalam model gombalan cewek, style berpacaran dan lain – lain, yang tentunya jika tidak diarahkan akan sangat berdampak tidak baik bagi kaula muda. hal tersebut mendorong saya untuk memadukan cerita Dilan dengan ayat ayat cinta. Sehingga nilai milenial dan religi terpadu. Keapikkan cerita membuat penonton berdecak kagum karena, DIlan yang merupakan representasi kehidupan milneial di dalam cerita aslinya kemudian dipadukan dengan balutan dialog dan gaya islami yang disadur dari Cerita ayat-ayat cinta membuat karya pementasan Ini menjadi drama yang sangat apik dan luar biasa," ceritanya bangga.

Pementaran tersebut dilakukan guna mendukung salah satu motto kampus adalah EDUCATION FOR CIVILIZATION. Tak berhenti disitu, diawal semester Ganjil 2019, Mr Leo (sapaan akrab) masih dipercaya sebagai pengampu MK tersebut yang sudah direvisi kurikulumnya menjadi menjadk INTRODUCTION TO LITERATURE. Sehingga kajiannya menjadi lebih luas yaitu tentang kesusastraan.

"Meski matakuliah berubah nama, tapi pementasan tetap digarap. Diakhir MK tersebut, kami bersama seluruh mahasiswanya menciptakan gebrakan baru. Yaitu, menampilkan karya – karya terbaik dari mahasiswa dengan lebih kompleks, dengan usungan tema DIGITALIZING LITERATURE IN LIFE. Tentunya tema tersebut sangat syarat makna. Diera sekarang banyak sekali cerita serta budaya dan juga sastra yang telah hilang karena tidak dikenal diabadikan dalam teks atau buku," ujar Ramli.

Olehnya, dengan tema DIGITALIZING tersebut, Mr Leo mencoba mengajak seluruh masyarakat untuk lebih aware dengan budaya, yang dimuat dalam beberapa tampilan di antaranya Drama Mai Kai Ura (asal mula cerita Hujan), stand Up comedy, solo vocal, dan yang paling unik adalah semua peserta diberikan kebebasan untuk berkreasi dlaam setiap tampilan – tampilannya. Sehingga lewat hal-hal menarik tersebut penonton akan lebih aware lagi terhadap budaya dan nilai – nilai kebudayaan, dan dial tahun 2020.

"Tema yang diangkat adalah ELIGIBLE ( English Literature Go Insightful and Incredible) melalui tema tersebut kami mencoba menyelaraskan budaya dalam kehidupan, karena budaya – budaya sekarang telah banyak terkontaminasi dan bahkan kian terkaburkan makna dan nilainya oleh budaya asing. Sehingga keorigilan budaya tersebut tak mudah untuk dilihat lagi, oleh sebab itu generasi muda harus ELIGIBLE untuk kemudian memfilter mana budaya Indonesia dan mana budaya asing," ulasnya.

Hal tersebut didukung oleh beberapa tampilan yang ditampilkan diantaranya permaina music dengan dinyanyikan nya 3 genre lagu yang berbeda yaitu lagu berbahas Daerah Bima, Berbahasa Indonesia dan berbahasa Inggris. Tentunya melalui hal tersebut sinergitas antara budaya timur dan barat senatiasa terjaga. Hal lain yang ditampilkan adalah Kapatu Mbojo dan Drama Musikal yang tentunya diberi sentuhan yang berbeda dari sebelumnnya. Karena setiap tema akan mempunyai substansi yang berbeda-beda.

"kami selalu mengatakan bahwa potensi yang dimilki oleh anak-anak lokal sangat luar biasa. Namun perlu sosok atau figur yang mampu membangkitkan potensi-potensi tersebut agar mereka mau lebih amaksimal dalam belajar dan berkarya," tutupnya. (TSB03)

[ Kembali ]
HMPS & UKM Partner & Support
Sekretariat Kampus I :
Jl. Pendidikan Taman Siswa No. 1 Kab. Bima - NTB
Gedung C Lt.1 Telp/Fax : 0374 - 42891
Sekretariat Kampus II :
Jl. Datuk Dibanta No. Kota Bima - NTB
Gedung A Lt.1
Copyright @ 2014 - Power by ICT-TSB